Bendungan Potensial untuk Energi Terbarukan

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat mengungkapkan terdapat banyak bendungan yang potensial dikembangkan sebagai pembangkit listrik tenaga mikrohidro. Adapun selama ini terhambat proses lelang ganda.

Bendungan-Potensial-untuk-Energi-Terbarukan
Bendungan Potensial untuk Energi Terbarukan

Direktur Bina Penatagunaan Sumber Daya Air Ditjen SDA Kementerian PUPR Fauzi Idris mengatakan dengan dibukanya keran oleh Kementerian ESDM supaya tidak ada lelang ganda maka akan memacu pengembangan energi listrik lewat tenaga air ke depan.

Kementerian PUPR, ujarnya, akan menyiapkan lelang bendungan yang berpotensi untuk tenaga listrik.

“Lelangnya bertahap. Permen itu turun, clear and clean, [dari sekitar] 46 sumber potensi yang 18 siap kami launching untuk dilelangkan berikutnya, ada yang sudah selesai, ada yang akan selesai 2020 dan 2021, akan ada [lelang], kemarin tertahan saja,” katanya kepada Bisnis, akhir pekan ini.

Baca Juga : Meneropong Prospek Saham Tambang Batu Bara 2020

Fauzi menekankan pada dasarnya pembangunan bendungan tetap berdasarkan fungsi yang ada di Kementerian PUPR yaitu untuk irigasi, air baku, dan pengendalian banjir sedangkan fungsi sebagai tenaga listrik yang potensial akan dilelangkan.

Adapun keenam bendungan yang berpotensi PLTMH dan telah dilelang tersebut yaitu Bendungan Gerak Serayu, Bendungan Jatibarang, Bendungan Gerak Batanghari, Bendungan Pandan Duri, Bendungan Titab, dan Bendungan Karet Jatimlerek.

18 Bendungan Punya Potensi EBT

Fauzi menambahkan terdapat 18 bendungan dengan potensi daya berlokasi di Pulau Jawa, Bali, Lombok, Lampung, dan Sumatra.

Di Jawa Barat yaitu Bendungan Jatigede di wilayah Sungai Cimanuk-Cisanggarung. Kemudian, di Jawa Tengah yaitu Bendungan Jati Barang di wilayah sungai Jratunseluna dan Bendung Gerak Serayu di wilayah Sungai Serayu-Bogowonto.

Kemudian di Jawa Timur, Bendungan Karet Jatimlerek, bendung gerak Lengkong Baru, Bendung Menturus, Bendung Mrican, Bendung Turi, Bendungan Wlingi, Bendungan Karang Kates, dan Bendungan Gerak Lodoyo di wilayah Sungai Brantas.

Selain itu, di wilayah Sungai Bali-Penida yaitu Tukad Unda 1 dan 2 dan Bendungan Titab.

Bendungan Pandan Duri di Lombok, Bendungan Batutegi di Lampung dengan wilayah Sungai Seputih Sekampung.

Kemudian, Bendungan Gerak Perjaya di Sumatera Selatan dengan wilayah sungai Musi-Sugihan-Banyuasin-Lemau.

Selanjutnya, Bendung Gerak Batanghari di Sumatra Barat dengan wilayah sungai Batanghari.

Sebelumnya, Kepala Biro Komunikasi Publik Endra S. Atmawidjaja mengatakan skema KPBU dapat digunakan pada bendungan yang memiliki potensi tenaga listrik.

KPBU memungkinkan kalau ada tenaga listrik biasanya ketertarikannya di situ, jadi skala ekonomi untuk PLTA. Ada yang di Kalimantan Utara yang mau dibikin, tapi swasta, memang tujuannya untuk hydro power,” katanya ketika kunjungan ke Bandara Rukoh di Kabupaten Pidie, Aceh, beberapa waktu lalu.

Dia menambahkan infrastruktur bendungan yang dibangun Kementerian PUPR, pada dasarnya berfungi untuk irigasi, air baku, dan pengendalian banjir. Kalaupun ada untuk listrik yaitu PLTMH dengan skala kecil.

“Kalau toh ada PLTMH kecil, jadi beda fungsinya,” katanya.