Begini Nasib Adaro dan Bukit Asam Selama Pandemi

Begini Nasib Adaro dan Bukit Asam Selama Pandemi

Begini Nasib Adaro dan Bukit Asam Selama Pandemi
Begini Nasib Adaro dan Bukit Asam Selama Pandemi

Masa pandemi Covid-19 yang belum akan berakhir menyebabkan harga batu bara masih tertekan.

Batu bara sempat terhempas hingga ke titik harga level terendah sejak 2016.

Permintaan pasar yang masih belum stabil membuat harga yang tak kunjung membaik. Sehingga menyebabkan menurunnya kinerja emiten batubara nasional. 

Kendati demikian, sejumlah analis masih berpikir optimis dan memproyeksikan bahwa sektor batubara akan mampu kembali bangkit dari stagnansi penjualan dan permintaan pasar setidaknya pada 2021.

Salah satu faktor utama yang menjadi kunci kebangkitan sektor batubara adalah permintaan dari Cina.

Perbintaan pasar batu bara China pada kuartal kedua tahun 2020 ini mulai menunjukkan sinyal penguatan.

Pendorongnya adalah karena adanya pemulihan kebutuhan batubara di negeri Panda itu.

Meski demikian, penguatan itu tidak cukup signifikan untuk sisa tahun ini. Dengan demikian, diperkirakan tekanan akibat wabah pandemi akan masih akan sangat terasa pada komoditas batu bara. 

Tekanan akan terus terjadi pada kuartal ketiga tahun ini. Setidaknya pada periode Agustus dan September.

Meskipun ada peningkatan atau pemulihan harga batubara pada tahun ini. Angkanya tidak akan bisa mencapai angka sebelum wabah pandemi datang.

Sementara itu jika melihat dari prospek emiten batubara yang ada di dalam negeri, sejumlah analis sepakat jika emiten PT. Bukit Asam Tbk. (PTBA) dan PT. Adaro Energy Tbk (ADRO) sebagai pilihan terbaik dan perusahaan yang siap bertahan dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Harga saham mereka masih berada di angka masing-masing Rp. 2.300 dan Rp. 1.350 per saham.

Baca Juga: Revolusi Industri Bisa Merubah Dunia Pertambangan

Dibanding emiten batubara lain, kedua perusahaan itu dinilai memiliki cadangan batubara yang cukup, diversifikasi portofolio yang baik, terintegrasinya saham pertambangan dan potensi dividen yang begitu menjanjikan.

Jika melihat dari laporan keuangan kedua perusahaan pada kuartal pertama tahun 2020. Catatan laba bersih mereka tercatat mengalami penurunan secara year on year.

PT. Bukit Asam mengalami penurunan laba bersih sebesar 20,57 persen.

Sementara PT. Adaro Energy turun sebesar 17,36 persen.