Batu Bara Songsong Ekonomi Kembali Pulih

Batu Bara Songsong Ekonomi Kembali Pulih

Batu-Bara-Songsong-Ekonomi-Kembali-Pulih
Batu Bara Songsong Ekonomi Kembali Pulih

Laju ekonomi yang mulai bergerak kembali setelah dibukanya lockdown akibat pandemi Covid-19, memacu harga batu bara menguat.

Kabar gembira yang disambut hangat oleh perusahaan batu bara, termasuk perusahaan batu bara plat merah PT Bukit Asam Tbk (PTBA)

Analis Trimegah Sekuritas Aditya Nugraha dan Willinoy Sitorus mengungkapkan. Pembukaan kembali ekonomi sejumlah negara, semisal India dan Indonesia, dapat menjadi sentimen positif.

Apalagi, Indonesia dan India kini menjadi pasar utama bagi produsen besar batu bara, terutama dari Indonesia sendiri.

“Hal ini telah terbukti dengan kenaikan rata-rata harga jual batu bara menjadi US$ 57 per ton. Masih di atas biaya penambangan (cash cost) sebesar US$ 50,” tulis Aditya dan Willinoy dalam risetnya, baru-baru ini. 

Adapun harga terendah batu bara Newcastle 600 mencapailevel US$ 50 per ton pada Mei 2020 dan mulai merangkak naik menjadi US$ 57 per ton setelah aktivitas ekonomi mulai dibuka di sejumlah negara. 

Meski demikian, kenaikan rata-rata harga jual batu bara diperkirakan lambat akibat pandemi Covid-19. Kemungkinan hanya mencapai US$ 65 per ton pada 2024.

Di tengah perkiraan melambatnya kenaikan harga jual, emiten batu bara yang memiliki arus kas kuat, kualitas aset yang baik, tingkat keuntungan yang relatif besar, dan neraca keuangan kuat adalah perusahaan yang paling diuntungkan.

Sebab, perusahaan dengan kriteria tersebut memiliki tingkat fleksibilitas untuk menaikkan dan menurunkan belanja modal dan biaya penambangan, sesuai dengan fluktuasi harga jual batu bara. 

Baca Juga: Contoh Barang Tambang Nonmigas

Selain faktor tersebut, Aditya dan Willinoy menyebutkan bahwa pemodal dapat mempertimbangkan emiten batu bara yang memiliki diversifikasi bisnis di luar batu bara, khususnya produsen batu bara yang memiliki progres diversifikasi usaha yang baik hinggasaat ini.