Batu Bara Nyaman, Minyak Geram!

Buntut dari konflik antara Iran dan Amerika Serikat masih terasa. Harga minyak yang justru yang paling terdampak, sedangkan harga batu bara masih nyaman-nyaman saja.

Berdasarkan data Refinitiv, persediaan batu bara di pelabuhan utama China bagian utara yaitu Caofeidian, Qinhuagndao dan Jingtang berada di posisi 154,51 juta ton per 3 Januari 2020. Jumlah tersebut jauh lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 16,57 juta ton.

Harga batu bara kontrak berjangka ICE Newcastle ditutup naik pada perdagangan kemarin. Awal tahun aktivitas perdagangan batu bara di beberapa negara konsumen bahan bakar tersebut belum menunjukkan perbaikan signifikan.

Harga batu bara kontrak berjangka ICE Newcastle kemarin ditutup menguat 0,51% dibanding posisi penutupan perdagangan sebelumnya. Harga batu bara menyentuh level US$ 69,65/ton. Harga batu bara seolah terjebak di zona nyamannya dan bergerak sideways di rentang.

Impor batu bara China di beberapa hari awal tahun 2020 sudah naik menjadi 3,5 juta ton. Total impor tersebut masih lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai 6,1 juta ton.

Beralih ke Negeri Sakura dan Negeri Ginseng. Impor batu bara Jepang dan Korea Selatan sejak awal bulan tercatat masing-masing 2,1 juta ton dan 1 juta ton.

Jika dibanding periode yang sama tahun lalu maka jumlah tersebut lebih rendah. Mengingat impor batu bara Jepang mencapai 3,6 juta ton dan Korea Selatan mencapai 2,1 juta ton. Sejauh ini impor batu bara ke Korea Selatan hingga Maret nanti diramal turun karena kondisi cuaca yang sejuk serta minimnya katalis positif.

Baca Juga : AS-Iran Tegang, 4 Saham Batu Bara Terbang

Impor Batu Bara?

Impor batu bara India sejak awal tahun hingga kemarin mencapai 2,2 juta ton, menurun dibanding tahun lalu yang mencapai 3,6 juta ton. Total persediaan batu bara di berbagai pembangkit listrik di India per 6 Januari 2020 mencapai 31,6 juta ton atau setara dengan 18 hari penggunaan.

Sejauh ini belum ada katalis positif yang mampu mendorong harga batu bara. International Energy Agency (IEA) memprediksi permintaan batu bara masih akan stabli. Di saat negara barat mengurangi konsumsinya, China dan India justru masih akan menjadi penopang permintaan.

Dua negara tersebut (China & India) memang merupakan negara dengan konsumsi batu bara terbesar. Wajar saja jumlah penduduknya yang mencapai lebih dari 1 milyar jiwa dan terus bertumbuh membutuhkan pasokan utilitas listrik yang besar untuk kehidupan sehari-harinya.

Namun kini China menghadapi dilema. Harga batu bara memang murah. Saat ekonomi Negeri Panda tumbuh paling lambat tiga puluh tahun terakhir, China banyak membangun pembangkit listrik tenaga batu bara baru.

Jika China kembali ke komitmen untuk mengurangi polusi maka China harus mulai berhenti membangun pembangkit listrik batu bara baru dan menutup pembangkit yang tua dan tak efisien.