Batu Bara Masih Akan Jadi “Nadi” Ekonomi RI

Batu Bara
Batu Bara Masih Akan Jadi Nadi Ekonomi RI

Tak ada satupun negara di dunia ini yang tidak pernah memakai batu bara sebagai bahan bakar untuk menggerakkan roda perekonomiannya. Namun, stigma buruk batu bara seolah menghilangkan nilai penting batu bara bagi peradaban dunia dan khususnya bagi Indonesia.

Jika kita menengok sejarah, batu bara merupakan sumber energi utama revolusi industri di Inggris. Tanpanya, negeri monarki di Eropa ini tak akan mampu menjadi ekonomi terkuat kedua di kawasan dan memiliki jejaring negara persemakmuran di penjuru dunia.

Bagi Amerika Serikat (AS), negara dengan perekonomian terkuat di dunia, batu bara menjadi nyawa penggerak logistik dan distribusi manufaktur lewat jaringan kereta api uap di era 1800-an sampai 1950-an, hingga membawanya menjadi negara adidaya seperti sekarang.

Sampai sekarang, batubara masih menjadi komponen energi primer utama dunia. Mengutip BP Statistical Review of World Energy 2018, mineral yang di Indonesia kerap disebut sebagai ’emas hitam’ ini menyumbang 27,6% energi primer dunia, menempel minyak bumi yang berada di posisi pertama dengan porsi 34,2%.

Baca juga: SKK Migas Proyeksikan Produksi Minyak 1 Juta Barel Sehari Pada 2030

Batu Bara Abad ke-18

Di Indonesia, batu bara sudah dipakai sejak abad ke-18. Dalam PMI Indonesia Chapter (19 September 2012) disebutkan bahwa pertambangan ini pertama di Indonesia muncul pada 1849 di Pengaron, sebuah dusun di sepanjang Sungai Mahakam di Kalimantan Timur.

Batu Bara

Pertambangan tersebut dioperasikan oleh perusahaan Belanda Oost Borneo Maatschappij. Setelah itu sejak tahun 1898 bermunculan beberapa perusahaan kecil yang memulai operasi pertambangan di Palarang, 10 km sebelah tenggara Samarinda.

Journal of The Iron and Steel Institute (volume 72) menyebutkan bahwa Indonesia tercatat dalam peta batubara dunia pada 1904. Namun pemasoknya bukan dari Kalimantan (yang kini jadi produsen utama batubara), melainkan Sumatra-tepatnya dari Ombilin, Sawahlunto. Tanah Sriwijaya ini mengapalkan batubara 207.280 ton pada 1904 menyusul pembukaan pelabuhan Teluk Bayur di Sumatra Barat.

Meski jadi pemasok terbesar ketiga di Asia, volume produksi Sumatra masih gurem, jauh dari produksi Jepang dan India yang memproduksi 10,1 juta ton dan 8,4 juta ton batubara. Sebagai perbandingan, Inggris sang tuan rumah revolusi industri pada 1905 itu memproduksi 236,2 juta ton batubara, setara dengan separuh produksi batubara Indonesia saat ini.