Batu Bara Jadi Bahan Bakar Fosil Paling Mahal

Batu Bara Jadi Bahan Bakar Fosil Paling Mahal

Batu-Bara-Jadi-Bahan-Bakar-Fosil-Paling-Mahal
Batu Bara Jadi Bahan Bakar Fosil Paling Mahal

Berdasarkan perhitungan Bloomberg. Anjloknya harga minyak mentah selama sebulan terakhir menempatkan harga patokan minyak mentah global di bawah kontrak batu bara.

Batu bara saat ini menjadi bahan bakar energi fosil paling mahal di dunia. Padahal, komoditas ini biasanya menjadi pilihan bahan bakar yang paling murah dan paling tidak ramah lingkungan.

Batubara Newcastle Australia di ICE Futures Europe ditutup pada US$66,85 per metrik ton pada hari Jumat (20/3/2020). Setara dengan US$27,36 per barel minyak mentah. Adapun harga minyak Brent saat ini diperdagangkan pada kisaran US$26 per barel.

Baca Juga: Antam Siapkan Skenario Antisipasi Dampak Corona

Meskipun penggunaan batu bara di AS dan Eropa telah turun harga gas alam murah dan energy terbarukan masih lebih murah dan stagnannya pertumbuhan permintaan energi, konsumsi batu bara terus meningkat di Asia.

Di wilayah ini, batu bara telah lama menjadi opsi bahan bakar energi termurah. Batu bara juga menjadi bahan bakar fosil paling kotor karena menghasilkan karbon dioksida dua kali lebih banyak daripada gas alam. Bahkan, 30 persen lebih banyak daripada bensin saat dibakar.

Harga Batu Bara Harus Dipertahankan

Goldman Sachs Group Inc. Harga batu bara yang menjadi lebih mahal daripada minyak mentah harus dipertahankan untuk memberi mendorong sejujmlah pembangkit listrik beralih dari batu bara.

Dalam jangka pendek, penggunaan batu bara di Jepang diperkirakan turun tipis di kuartal pertama penyusul harga LNG yang lebih murah.

Kontrak Newcastle menunjukkan penggunaan batu bara untuk pembangkit listrik, yang sebagian besar memiliki fundamental penawaran dan permintaan yang berbeda dari pasar minyak.

Pembatalan penerbangan dan pembatasan perjalanan diperkirakan telah memangkas permintaan minyak global sebanyak 20 persen, ditambah dengan banjirnya pasokan akibat Arab Saudi dan Rusia meningkatkan produksi mereka. Penurunan tersebut mengirim Brent turun sekitar 60 persen sejak awal tahun.

Di sisi lain, pasar pembangkit listrik di Asia yang merupakan pelanggan terbesar komoditas batu bara belum mencatat penurunan permintaan yang berarti.