Batu Bara di Kalimantan Timur Mengalami Penurunan

Batu Bara di Kalimantan Timur Mengalami Penurunan

Batu-Bara di-Kalimantan-Timur-Mengalami-Penurunan
Batu Bara di Kalimantan Timur Mengalami Penurunan

Produksi batu bara Kalimantan Timur mengalami pelemahan.

Daerah yang terkenal sebagai penghasil batu bara terbesar di Indonesia tersebut mengalami fluktuasi produksi akibat badai pandemi Corona. 

Kepala Dinas Penamaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kaltim Abdulla Sani menyebut penurunan kinerja sejumlah sektor utama di Kaltim seperti  batubara.

Hal ini terjadi bukan hanya karena adanya Pandemi Covid-19 diterbitkannya UU Nomor 3 tahun 2020 tentang Mineral dan Batubara (UU Minerba) turut menjadi penyebab.

“Karena perijinan ditarik kembali ke pusat. Kita (Kaltim) tidak bisa lagi terbitkan izin usaha pertambangan dan ada beberapa sektor yang kembali ke pusat,” ujar Sani dalam dialog bersama Bank Indonesia yang disiarkan melalui RRI Samarinda.

Merujuk data Kantor Perwakilan Bank Indonesia (Kpw-BI) Kaltim, kinerja ekspor batu bara tercatat mengalami penurunan yang bersumber terbatasnya permintaan di tengah harga yang masih mengalami kontraksi.

Volume ekspor batu bara Kaltim triwulan I 2020 tercatat mengalami kontraksi sebesar 2,65 persen setelah pada triwulan sebelumnya hanya tumbuh tipis sebesar 1,37 persen.

Hal ini diperparah dengan pasokan batu bara yang melimpah seiring dengan melemahnya tingkat  permintaan yang terjadi pada awal tahun 2020 dan realisasi penyerapan yang terhambat seiring dengan merebaknya pandemi Covid-19.

Baca Juga: IBM dan ABM Investama Garap Digitalisasi Sektor Tambang

“Dalam waktu dekat kami akan mempertanyakan ke Dirjen Minerba. Bagaimana dengan izin yang sebelum berlaku UU 3 2020, sudah cukup lama ajukan perijinan. Apakah harus urus ke pusat apa tetap di daerah. Ini harus ditindaklanjuti mengingat banyak izin yang terhambat yang membuat sektor pertambangan menurun. Kalau kembali ke pusat, maka akan semakin lama menunggunya. Realisasi investasi juga akan turun,” ungkap Sani.