Bangga! Indonesia Jadi Raja Nikel Dunia

Bangga! Indonesia Jadi Raja Nikel Dunia

Sebagai bangsa Indonesia, seharusnya kita patut bangga karena negara kita Indonesia menjadi salah satu produsen nikel terbesar di dunia dengan menyumbang 27% dari total produksi global.

Area Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara punya potensi yang besar di Indonesia sampai dengan saat ini.

Berdasarkan pemetaan Badan Geologi pada Juli 2020, Indonesia memiliki sumber daya bijih nikel sebesar 11.887 juta ton dan cadangan bijih sebesar 4.346 juta ton. 

Di sisi lain, total sumber daya logam mencapai 174 juta ton dan 68 juta ton cadangan logam.

Salah satu kekayaan logam Indonesia yang bernilai tinggi saat ini adalah nikel, logam dasar yang digadang-gadang jadi komoditas masa depan. Nikel merupakan salah satu logam hasil tambang yang digunakan untuk berbagai keperluan.

Di pasar dikenal ada dua jenis nikel, yaitu nikel kelas I dan kelas II. Nikel kelas II banyak digunakan untuk pembuatan stainless steel dan kelas I digunakan untuk komponen baterai mobil listrik.

Walaupun, faktanya, nikel memiliki banyak kegunaan terutama untuk industri mobil listrik, sayangnya, selama ini Indonesia masih mengekspor nikel dalam bentuk mentah atau bijih yang harganya murah.

Rencana awal pemerintah akan menghentikan ekspor bijih nikel di tahun 2022. Namun, pada akhir Agustus 2019, pemerintah resmi melakukan moratorium ekspor bijih nikel yang efektif per 1 Januari 2020, 2 tahun lebih cepat dari target.

Saat awal pemerintah mengumumkan penghentian ekspor pada Juli 2019, harga nikel di London Metal Exchange (LME) mulai bergeliat. 

Kemudian saat rumor penghentian ekspor akan dimajukan jadi tahun 2020 pada pertengahan Agustus menyeruak, harga nikel semakin liar.

Baca Juga: 5 Manfaat Sumber Daya Alam Tambang

Hanya dalam kurun waktu dua bulan saja harga nikel di LME naik dari US$ 12.000/ton menjadi US$ 18.000/ton, atau naik 50%. 

Namun, akibat pandemi Covid-19 harga nikel langsung longsor ke bawah US$ 12.000/ton pada April tahun 2020.

Sebagai informasi, kini harga nikel sudah kembali tembus ke level US$ 18.000/ton. Tren kenaikan harga nikel juga membuat saham-saham emiten pertambangan ikut beterbangan.

Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) bahkan melesat dengan sangat tinggi dan menjadi salah satu saham bagger dengan capital gain lebih dari 270% sejak awal 2020. Tren kenaikan harga nikel tidak lepas dari berkembangnya industri mobil listirk

Menurut laporan dari DBS, Permintaan nikel untuk baterai mobil listrik akan tumbuh sebesar 32% (CAGR ) pada 2019-2030 sehingga meningkatkan konsumsi nikel untuk baterai yang dapat diisi ulang hingga 24% per tahun menjadi 1,27 juta ton pada tahun 2030.