Bangga! 2025 RI Bakal Punya 3 Pabrik Gasifikasi

Bangga! 2025 RI Bakal Punya 3 Pabrik Gasifikasi
Bangga! 2025 RI Bakal Punya 3 Pabrik Gasifikasi

Saat ini, pemerintah terus mengupayakan adanya hilirisasi sektor batu bara. Salah satu caranya dengan pengembangan industri gasifikasi batu bara. Target di 2025, akan ada 3 pabrik gasifikasi batu bara yang beroperasi.

Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara (Ditjen Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan tiga pabrik gasifikasi tersebut akan dibesut oleh tiga perusahaan batu bara besar di Indonesia, PT Kaltim Prima Coal (KPC), Konsorsium BUMN dalam negeri yang dimotori PT Bukit Asam (PTBA), dan PT Arutmin Indonesia.

Terdapat tiga poin utama dalam pembuatan pabrik gasifikasi. Mengutip data Ditjen Minerba, Minggu, 17 Januari 2021, poin yang pertama, coal to methanol project yang dikerjakan oleh PT Kaltim Prima Coal (KCP) merupakan konsorsium antara Bumi Resources, Ithaca Group, dan Air Product.

Proyek yang berlokasi di Bengalon, Kalimantan Timur ini ditargetkan beroperasi pada 2025. 

Proyek ini akan menggunakan batu bara (feedstock) sebesar 5-6,5 juta ton per tahun yang akan menjadi produk methanol sebesar 1,8 juta ton per tahun.

Saat ini progres proyek coal to methanol project masih dalam tahap finalisasi studi kelayakan dan skema bisnis.

Kedua, coal to dimethyl ether (DME) project dikerjakan oleh konsorsium PT Bukit Asam, PT Pertamina (Persero), dan Air Product.

Proyek yang berlokasi di Tanjung Enim, Sumatera Selatan ini ditargetkan beroperasi pada 2024.

Proyek ini membutuhkan feedstock batu bara 6,5 juta ton per tahun dan akan menjadi produk DME 1,4 juta ton per tahun.

Baca Juga: Pandemi Bawa Neraca Dagang RI 2020 Surplus

Saat ini status proyek masih dalam tahap finalisasi kajian dan skema subsidi DME untuk substitusi LPG serta negosiasi skema bisnis proyek.

Ketiga, coal to methanol project digarap oleh PT Arutmin Indonesia. Proyek yang berlokasi di IBT Terminal, Pulau Laut Kalsel ini dijadwalkan beroperasi pada 2025.  

Proyek ini membutuhkan feedstock batu bara sebesar enam juta ton per tahun untuk menjadi methanol 2,8 juta ton per tahun. Statusnya saat ini masih dalam tahap finalisasi kajian.