Baca! Rekomendasi Analis Saham Emiten Batubara Saat Ini

Perlahan tapi pasti, sejumlah emitem batubara menunjukkan geliat meluaskan jangkauan bisnis. Tercatat, sejumlah emiten batubara terus memperluas pasar ekspor, salah satunya PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang tengah melihat potensi untuk menambah porsi penjualan ke pasar India.

Direktur dan Sekretaris Dileep Srivastava Bumi Resources mengatakan BUMI memperluas pasokan batubara ke India. “Ada dua pasar tambahan Filipina dan Vietnam,” katanya, Selasa (26/11).

Ia bilang, perusahaan penambangan batubara bisa melakukan divesifikasi bisnis sebagai salah satu strategi di tengah penurunan harga batubara.

Selain BUMI, perusahaan penambangan batubara milik negara PT Bukit Asam Tbk (PTBA) juga berhasil mendekap kontrak penjualan batubara ke Taiwan. PTBA bakal mengekspor batubara kalori tinggi sebanyak 2 juta ton atau senilai kurang lebih Rp 2 triliun untuk 2020 mendatang.

Baca juga artikel terkait Analis Saham Emiten Batubara: Investasi, Ekspansi dan Divestasi Petrosea

Analis Saham Emiten Batubara

Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan, upaya perusahaan batubara untuk memperluas pasar ekspor bisa menjadi strategi di saat China mengurangi impor, meski hal ini tak begitu signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan penambangan batubara.

Dengan kondisi perlambatan ekonomi saat ini, ia memproyeksi tren penurunan untuk emiten batubara bakal berlanjut hingga awal tahun mendatang. “Secara valuasi dibanding tahun lalu sekarang jauh lebih murah,” katanya Selasa (26/11).

Menurutnya, emiten batubara masih menarik untuk investasi jangka panjang atau paling tidak selama lima tahun. Ia melihat salah satu saham batubara yang masih menarik yakni PTBA lantaran secara kinerja juga masih menghasilkan laba.

Sementara untuk investasi jangka pendek, ia menyarankan investor untuk menghindari lebih dulu emiten penambangan batubara lantaran masih sulit untuk naik kembali. Ia merekomendasikan investor untuk membeli saham PTBA dengan target harga Rp 3.000 per saham.