Asosiasi Tambang dan Migas Sulit Lakukan Merger dan Akuisisi

Asosiasi Tambang dan Migas Sulit Lakukan Merger dan Akuisisi

Asosiasi-Tambang-dan-Migas-Sulit-Lakukan-Merger-dan-Akuisisi
Asosiasi Tambang dan Migas Sulit Lakukan Merger dan Akuisisi

Pandemi Corona menggoyang kondisi perekonomian. Hal itu menyulut tekanan terhadap pasar dan harga komoditas.

Kondisi ini membuat kinerja perusahaan menjadi tertekan, termasuk bagi yang bergerak di sektor energi minyak dan gas (migas) dan pertambangan.

Alhasil, di tengah kondisi pandemi saat ini, rencana perusahaan untuk melakukan aksi korporasi merger dan akuisisi (M&A) diprediksi akan tertahan.

Pelaksana Harian Direktur Eksekutif Indonesia Mining Association (IMA) Djoko Widajatno mengatakan, perusahaan tambang mineral dan batubara (minerba) akan sukar melakukan M&A.

Djoko menerangkan, menurut diskusi yang dilakukan bersama anggota IMA, pandemi Corona telah membuat kinerja pendapatan perusahaan menjadi terhambat.

“Sehingga mereka belum perlu cari tambahan modal, maka akuisisi belum dilakukan oleh pemilik uang, menunggu sahamnya semoga tidak turun lagi,” ujarnya.

Selain dari sisi pergerakan pasar dan harga, Djoko menyebut bahwa M&A juga akan dibatasi dari sisi regulasi. “Perusahaan yang besar dan masih berjalan akan sukar melakukan merger, akan dibatasi oleh perubahan perijinan,” katanya.

Hal senada juga disampaikan oleh Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI). Menurut Direktur Eksekutif APBI Hendra Sinadia, masa pandemi ini bukanlah momentum yang tepat untuk melakukan M&A.

Baca Juga: Untung Digadai atau Dijual?

Hendra menjelaskan, meskipun ada distressed asset yang ditawarkan saat ini akan sangat rendah, namun faktor outlook harga komoditas dan faktor ketidakpastian pasar akan menjadi pertimbangan utama investor.

“Dalam kondisi resesi ekonomi dunia akibat Pandemi Covid-19 rasanya aksi M&A di sektor pertambangan akan sangat minim karena faktor risiko yang masih tinggi karena banyak faktor ketidakpastian,” sebutnya.