Arie Lasut, Pejuang Pertambangan

Bentuk perjuangan semasa penjajahan dahulu, tidak hanya dilakukan dengan ikut berperang dan berdiplomasi. Mengamankan data-data strategis milik negara, juga menjadi salah satu wujud nyata perjuangan.

Hal itu yang dilakukan oleh Arie Frederik Lasut. Pria kelahiran Desa Kapateran Tondano, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, 6 Juli 1918 itu berhasil mempertahankan data-data tambang di Indonesia dari rampasan Belanda.

Arie Lasut
Sudut Energi – Arie Lasut, Pejuang Pertambangan

Kisahnya bermula ketika dia mengikuti seleksi beasiswa kursus asisten geologi dari Dients Van den Mijnbow atau Dinas Pertambangan milik Pemerintah Hindia Belanda. Dari 400 orang yang melamar, hanya ada dua orang yang diterima, yakni Arie dan Soenoe Soemosoesastro.

Dalam buku Wisata Parijs van Java: Sejarah, Peradaban, Seni, Kuliner, dan Belanja (2011) karya Her Suganda disebutkan, karier Arie di bidang geologi dan tambang diawali setelah dirinya menyelesaikan kursus tersebut pada tahun 1939. Kedua orang itulah yang kemudian disebut sebagai ahli geologi pribumi pertama di Indonesia.

Waktu terus berlalu, hingga akhirnya pemerintah kolonial Belanda harus hengkang dari tanah Indonesia, setelah bertekuk lutut dari bala tentara Jepang, pada 8 Maret 1942.

Menilik catatan kilas balik sejarah pertambangan dan energi di Indonesia dari laman Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), pada masa penjajahan Jepang tahun 1942–1945, Dienst van den Mijnbouw dengan segala sarana, termasuk dokumennya diambil alih oleh Jepang. Namanya pun berganti menjadi Chisitsu Chosajo.

Posisi Strategis

Saat Jepang masuk, tenaga ahli dari Belanda diasingkan. Namun, Arie bersama seluruh karyawan Indonesia tetap dipertahankan dan terus bekerja sama mendalami geologi dan pertambangan Indonesia. Arie sendiri, diangkat menjadi asisten geolog, suatu jabatan strategis bagi kaum pribumi kala itu.

Dalam perjalanan kariernya, banyak yang Arie kerjakan. Ia meneliti endapan yarsit di daerah Ciater, Subang, Jawa Barat (Jabar). Masih di Jabar, tambang belerang di Telagabodas juga ditelitinya, demikian pula dengan tambang belerang di Wanaraja.

Arie juga mengkaji kandungan dan cadangan batu bara di Cisaat, Sukabumi, tambang batubara di Ngandang, Rembang, Jawa Tengah, Palibendo dan Watugemuk. Tambang batu bara di Bayah, Banten pun tidak luput dari penelitiannya. Begitu pula dengan pertambangan daerah Jalen Watulimo di Tulungagung, Jawa Timur. Tak ketinggalan, studi tentang pertambangan minyak bumi di Bongas, Cirebon dan Cepu juga ia lakukan, dan masih banyak lagi.

Keterlibatannya dalam banyak penelitian, menjadikan dirinya mengetahui segala kekayaan dan rahasia pertambangan yang ada di tanah Indonesia, baik yang dilakukan pada zaman Hindia Belanda maupun zaman pendudukan Jepang.

Hanya berselang sekitar tiga tahun, Indonesia kemudian meraih kemerdekaannya di Agustus 1945. Momentum tersebut menjadikan semua tambang yang ada sepenuhya menjadi milik Indonesia. Dikutip dari laman pahlawan center milik Kementerian Sosial, pada 29 September 1945, Arie pun ikut serta dalam pengambilalihan Chisitsu Chosajo dari Jepang.

Usaha yang dilakukan pun berhasil dan berjalan dengan damai. Atas keberhasilan itu, setiap tanggal 29 September diperingati sebagai Hari Pertambangan.

Pasca berdaulat di tangan Indonesia, nama Chisitsu Chosajo diganti menjadi Jawatan Tambang dan Geologi. Arie juga didaulat sebagai Kepala Jawatan Tambang dan Geologi di usianya yang baru menginjak 28 tahun.

Target Belanda

Tak lama berselang, pasukan Belanda masuk kembali ke Indonesia dan melakukan agresi militer I pada tanggal 21 Mei 1947. Instansi yang dikomandoi Arie itu jadi porak-poranda.

Pusat Jawatan tersebut cepat-cepat dipindah dari Bandung ke Yogyakarta. Sekolah-sekolah pertambangan yang sempat dibesut oleh Jawatan Tambang dan Geologi juga ikut dipindahkan. Tenaga-tenaga ahli pun disebar ke Borobudur, wilayah Gunung Merapi dan sebagainya.

Kekhawatirannya akan upaya Belanda untuk berupaya kembali menguasai sektor pertambangan pun terjawab. Pada suatu waktu, ruang kerjanya sempat diobrak-abrik dan semua berkas berhamburan. Anehnya, tidak ada satupun barang berharga miliknya yang hilang. Usut demi usut, pihak Belanda rupanya mencari dokumen pertambangan yang sudah lama mereka idamkan.

Secara personal, Arie menjadi sasaran politik Belanda karena mereka menyadari potensi keahliannya. Terlebih lagi, Arie tergabung dalam Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang wewenangnya setara dengan DPR-RI. Jabatan penting tersebut semakin membuatnya menjadi incaran kolonial.

Baca juga: 2 Tambang Batu Bara RI Masuk 10 Besar Dunia

Mengetahui hal itu, alih-alih sekadar menyelamatkan dirinya sendiri, Arie bertekad untuk menjaga dokumen kekayaan negara itu agar tak jatuh ke tangan Belanda. Di sisi lain, dengan penuh ambisi, Belanda meluncurkan taktik jitu lewat berbagai bujuk manis demi merampas data tambang dari tangan Arie. Saat itu, Arie senantiasa dihujani penawaran dari Belanda, mulai dari kenaikan gaji dan pangkat, sampai tawaran sekolah di luar negeri.

Mengutip dari buku Arie Frederik Lasut (1982) yang ditulis oleh Mardanas Safwan, Arie selalu menampik semua iming-iming itu dengan tegas.

“Kalau Pemerintah Republik Indonesia memerintahkan saya untuk bekerja sama dengan tuan-tuan (pihak Belanda), maka saya akan mematuhinya demi pemerintah dan rakyat Indonesia,” ucap Arie waktu itu.

Mendengar jawaban tersebut, Pemerintah Belanda naik pitam. Kekesalan itu kian meradang dari waktu ke waktu. Hingga akhirnya, Pemerintah Belanda di Jakarta mengirimkan radiogram ke Inlichtingen Veilligheidsgroep (IVG) alias Dinas Rahasia Militer Belanda yang ada di Jogjakarta, tempat Arie berada.

“A.F Lasut zoo spoedig mogelijk wegwerken,” tulis pesan dari radiogram tersebut, yang artinya Arie Frederik Lasut secepat mungkin harus dihilangkan.

Bergeming

Setengah jam setelah instruksi lewat radiogram disebarkan, tepat pada 7 Mei 1949 pukul 09.00 WIB, tiga orang serdadu KNIL atau Tentara Hindia Belanda menyergap kediaman Arie. Kemudian, ia dibawa masuk ke mobil jeep menuju daerah Pakem, sekitar 7 kilometer di utara Jogjakarta.

Sepanjang perjalanan, serdadu KNIL menyiksa Arie dengan banyak pukulan. Sebabnya hanya satu, agar putra daerah Sulawesi Utara itu buka suara soal rahasia negara terkait tambang dan geologi. Arie tetap bergeming.

Lantaran tak mendapatkan informasi, akhirnya pukul 10:00 WIB, Arie ditembak serdadu Belanda.

Dari catatan dari Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia (IKPNI), Arie ditemukan terbujur kaku mengenakan celana dan kaus putih dengan tangan memegang granat. Arie meninggal dalam ketegarannya sebagai sosok anak bangsa yang tidak bersedia bekerja sama dengan kaum penjajah.

Mengutip buku Kisah 124 Pahlawan dan Pejuang Nusantara (2006) yang ditulis Gamal Komandoko, jenazah pejuang dari Tondano itu dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Gondomanan, Yogyakarta.

Jerih payah Arie dalam menjaga dokumen kekayaan negara hingga akhir hayat terus menuai apresiasi. Sebutan “Bapak Pertambangan Indonesia”, disematkan bagi pemuda pemberani dari tanah Minahasa itu. Dengan penuh kebanggaan, Kota Manado pun mengabadikan nama Arie Lasut menjadi nama Gelanggang Olahraga (GOR).

Penghargaan kepada Arie turut mengalir dari ranah akademik, di mana Fakultas Teknologi Mineral UPN Veteran Yogyakarta menjadikan nama Arie Lasut sebagai nama dari salah satu gedung perkuliahan.

Atas semua jasanya, pemerintah pada 20 Mei 1969 silam menganugerahi gelar pahlawan kemerdekaan nasional bagi Arie. Meski fisiknya sudah tiada, jejak perjuangan Arie masih bisa dikenang secara nyata lewat prasasti yang berdiri kokoh di tangga menuju lantai II Museum Geologi, Bandung.