Apakah Harga Batu Bara Bisa Bertahan?

Apakah Harga Batu Bara Bisa Bertahan?

Apakah-Harga-Batu-Bara-Bisa-Bertahan?
Apakah Harga Batu Bara Bisa Bertahan?

Harga batu bara enggan naik menembus level US$ 60/ton.

Harga batu bara masih mengalami tren pelemahan akibat pandemi Covid-19.

Selama minggu ini, harga acuan batu bara di bursa ICE Newcastle (Australia) untuk kontrak yang berakhir 28 Agustus 2020 turun 0,83%. Harga komoditas ini sempat anjlok tiga hari beruntun.

Sepertinya harga batu bara sedang masuk masa konsolidasi. Meski sepekan ini terkoreksi, tetapi harga komoditas andalan ekspor Indonesia tersebut masih mencatatkan kenaikan 1,12% dalam sebulan terakhir.

Selain itu, koreksi harga juga disebabkan penurunan permintaan.

Mengutip data Refinitiv, impor batu bara Jepang dan Korea Selatan pada pekan yang berakhir 5 Juli tercatat masing-masing 0,87 juta ton dan 1,98 juta ton.

Turun dibandingkan sepekan sebelumnya yakni masing-masing 1,41 juta ton dan 3,34 juta ton.

Sementara di India, produksi Coal India (perusahaan milik negara di sana) pada Juni 2020 adalah 39,2 juta ton. Anjlok 12,8% dibandingkan periode yang sama pada 2019.

Walau produksi turun, tetapi harga tidak terdongrak karena permintaan turun lbih tajam.

Pada Juni, pembelian batu bara produksi Coal India adalah 41,6 juta ton, ambles 15% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Baca Juga: Kilau Harga Emas Siap Dongkrak Kinerja Emiten Tambang Logam

Ditambah lagi harga gas sedang murah-murahnya. Harga gas alam acuan kontrak pengiriman Agustus stabil di kisaran US$ 2/mmBtu.

Harga gas yang murah membuat persaingan energi primer semakin sengit.

Kalau tidak banting harga, bisa-bisa batu bara tidak laku. Ini juga berkontribusi terhadap koreksi harga batu bara.