Apa Kabar Hilirisasi Tambang

Apa Kabar Hilirisasi Tambang

Apa-Kabar-Hilirisasi-Tambang
Apa Kabar Hilirisasi Tambang

Di saat pandemi Covid-19 melanda dunia, termasuk Indonesia, sebuah kesepakatan bisnis raksasa senilai US$ 2,8 miliar atau setara Rp. 41,7 triliun untuk membangun industri gasifikasi batubara menjadi methanol ditandatangani dari tempat terpisah, New York dan Jakarta.

Yang terlibat pun investor besar, Bakrie Capital Indonesia, Ithaca Resources, dan Air Products dari Amerika Serikat.

Nantinya gasifikasi batubara itu akan menghasilkan 2 juta ton methanol per tahun.

Jumlah produksi methanol sebesar itu signifikan untuk mensubstitusi kebutuhan BBM nasional, dan sekaligus mengurangi kebutuhan dolar AS untuk mengimpor BBM.

Proyek gasifikasi batubara ini adalah yang pertama di Indonesia, seiring imbauan dan harapan Presiden Jokowi untuk menciptakan nilai tambah sektor pertambangan.

Bila pengusaha pertambangan bisa membangun industri hilir, itu bisa menjadi aset yang mendatangkan kemakmuran bagi masyarakat dan bangsa.

Sementara untuk bahan tambang lainnya, seperti nikel, hilirisasi sudah berjalan terlebih dahulu. Pemerintah menerbitkan larangan ekspor nikel melalui Peraturan Menteri ESDM dan mulai berlaku per 1 Januari 2020.

Namun demikian, jauh sebelum terbitnya Permen ESDM tersebut, pemerintah Indonesia menyosialisasikan dan mengundang investor dari berbagai negara untuk berinvestasi di sektor hilir, baja nirkarat (stainless steel) dan baterai.

Baca Juga: Pembukaan Lockdown Panaskan Batu Bara

Undangan pemerintah Indonesia, disambut baik oleh investor asing. Saat ini, 11 smelter sudah terbangun dan 25 smelter lainnya dalam proses pembangunan.