Anjloknya Minyak Tak Berdampak Besar pada Tarif Listrik

Anjloknya Minyak Tak Berdampak Besar pada Tarif Listrik

Anjloknya-Minyak-Tak-Berdampak-Besar-pada-Tarif-Listrik
Anjloknya Minyak Tak Berdampak Besar pada Tarif Listrik

Direktur Utama PT. PLN Zulkifli Zaini mengungkapkan mayoritas sumber pembangkit listrik perusahaan saat ini adalah batu bara, gas, dan energi baru terbarukan (EBT). Ia bilang PLN tak lagi banyak mengandalkan PLTD.

PT. Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN menyatakan dampak anjloknya harga minyak mentah dunia tak akan berpengaruh signifikan terhadap pembentukan tarif listrik.

Pasalnya, jumlah pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) milik perusahaan hanya 4 persen dari total pembangkit yang ada.

“Kalau harga minyak turun sangat besar itu dampaknya tidak besar karena sumber energi bahan bakar minyak (BBM) hanya tinggal 4 persen saja,” ucap Zulkifli dalam video conference, Rabu (22/4).

Sebelumnya, Pengamat Energi dari Energy Watch Indonesia Mamit Setiawan menyatakan pelemahan minyak dunia juga akan mempengaruhi tarif listrik.

Sebab, salah satu komponen Biaya Pokok Penyediaan (BPP) adalah minyak mentah Indonesia (Indonesian crude price/ICP).

Pada Maret lalu, ICP tercatat jatuh 39,5 persen dari US$56,61 per barel menjadi US$34,23 per barel. Diproyeksi, ICP April akan berada di bawah US$30 per barel.

“Untuk tarif listrik saya kira ini merupakan berkah bagi PLN karena dalam menentukan BPP mereka ada salah satu komponennya ICP. Tinggal nanti PLN berhitung kembali apakah mereka dalam posisi untung atau tetap merugi, karena tarif listrik sudah cukup lama tidak naik,” kata Mamit.

Baca Juga: Cadangan Migas 136,5 Juta BOE Ditemukan

Sebagai informasi, hingga US$37 per barel pada Selasa (21/4). Trennya hari ini masih melemah, meski tidak minus.

Mengutip Antara, minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Juni anjlok 24 persen ke posisi US$19,33 per barel. Angka itu merupakan posisi terendah sejak Februari 2002 lalu.

Sementara, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni jatuh US$8,86 atau 43 persen ke US$11,57 per barel.