Akuisisi Tambang Kendur di Tengah Pandemi

Akuisisi Tambang Kendur di Tengah Pandemi

Akuisisi Tambang Kendur di Tengah Pandemi
Akuisisi Tambang Kendur di Tengah Pandemi

Fluktuasi harga batu bara saat ini jadi pemicu maraknya akuisisi lahan tambang.

Pelaku usaha lebih memilih menjaga kondisi keuangan agar mampu bertahan di tengah tekanan pandemi covid-19.

Secara teori, merosotnya harga dan pasar batubara saat ini biasanya menjadi momentum yang tepat untuk melaksanakan agenda akuisisi tambang.

Alasannya, seiring tren penurunan harga batubara, maka valuasi tambang yang akan diakuisisi akan ikut merosot.

Namun dengan adanya pandemi covid-19 yang menekan industri batubara, perusahaan besar sekali pun akan berpikir lagi untuk gencar melakukan akuisisi.

Sebab, menjaga keseimbangan alur kas (cash flow) saat ini sangat lah penting untuk bisa bertahan dari tekanan masa pandemi.

Aksi akuisisi tambang tampaknya masih akan sepi untuk tahun ini.

Sejauh ini tidak dapat dikatakan marak meskipun dengan kondisi harga saat ini ada perusahaan-perusahaan yang mungkin tidak sanggup untuk meneruskan kegiatannya.

Bisa jadi ada banyak pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi Produksi yang sebenarnya ingin menjual tambangnya lantaran tidak mampu bertahan di tengah anjloknya harga batubara. 

Baca Juga: Harga Batu Bara Akan Tumbuh Sampai Akhir Tahun

Namun, perusahaan lain cenderung akan mengerem ekspansi lantaran proyeksi bisnis batubara yang masih tidak menentu.

Sebab, menambah jumlah tambang malah membuat biaya semakin membengkak. 

Sejumlah perusahaan batubara raksasa pun lebih memilih untuk mengerem ekspansi di tahun ini.