Akankah Harga Minyak Naik ke $100 AS per Barrel

Harga minyak diproyeksikan bakal naik jika Iran memblokir Selat Hormuz. Hal ini mengingat ketegangan geopolitik yang meningkat antara AS dan Iran yang memicu kekhawatiran meluasnya konflik di Timur Tengah. 

James Eginton, analis investasi di Tribeca Investment Partners menilai. Para pelaku pasar energi semakin khawatir dampak tersebut dapat mengganggu pasokan minyak mentah regional. Konflik ini juga telah mendorong choke point (jalur sempit) minyak terpenting di dunia kembali menjadi sorotan global. 

Eginton mengatakan, langkah Iran untuk sepenuhnya mematikan pasokan minyak mentah di Selat Hormuz akan membuat harga minyak mentah semakin tinggi.

Terletak di antara Iran dan Oman, Selat Hormuz adalah jalur distribusi perairan yang sempit. Tetapi penting secara strategis karena menghubungkan produsen minyak mentah di Timur Tengah dengan pasar utama di seluruh dunia. Pada 2018, aliran minyak yang melewati Selat Hormuz rata-rata mencapai 21 juta barrel per hari. Itu setara dengan sekitar 21 persen dari konsumsi cairan minyak bumi global. “Jika Iran memblokir Selat Hormuz, maka pengiriman minyak akan meningkat hingga 100 dollar AS per barrel. 

Selama beberapa hari ke depan. Jika Iran mulai berusaha memblokir Selat Hormuz maka harga minyak akan jauh lebih tinggi.” Kata Eginton. Di Benchmark internasional, minyak mentah Brent diperdagangkan 68,87 dollar AS per barrel pada Rabu pagi dan kini naik hampir 0,9 persen ke 71,75 dollar AS per barrel di awal sesi perdagangan. Ini merupakan level tertinggi sejak September 2019. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS yang diperdagangkan dengan harga 63,02 dollar AS per barrel naik sekitar 0,4 persen di level 65,65 dollar AS per barrel di awal perdagangan. 

Baca Juga : ESDM Tak Terbitkan IUP Baru

Harga Minyak Naik?

Kenaikan harga minyak terbaru menyusul konfirmasi dari pejabat Pentagon, di mana Iran meluncurkan lebih dari 12 rudal balistik di beberapa pangkalan militer yang menampung pasukan AS pada dini hari tadi. Serangan rudal itu terjadi selang beberapa jam setelah pemakaman Qasem Soleimani, seorang komandan militer Iran yang tewas oleh pesawat tak berawak AS di Bandara Internasional Baghdad, akhir pekan lalu. Potensi eskalasi lebih lanjut mendorong beberapa pihak untuk mengantisipasi kekurangan pasokan minyak yang tidak direncanakan di Timur Tengah. 

Francisco Blanch, kepala penelitian komoditas dan turunannya dari Bank of America, mengatakan, ia yakin jika Iran menutup Selat Hormuz, kemungkinan besar akan mengirim minyak mentah berjangka dengan harga tinggi. “Mengingat kekhawatiran Iran akan respons militer AS yang kuat, itu akan menyebabkan lonjakan harga minyak sebesar 20 dollar AS hingga 40 dollar AS per barrel,” ungkapnya.

Administrasi Informasi Energi (EIA) memperkirakan bahwa 76 persen dari minyak mentah dan kondensat yang bergerak melalui choke point didistribusikan ke pasar Asia pada tahun 2018. Adapun negara tujuan terbesar, seperti China, India, Jepang, Korea Selatan, dan Singapura, yang berkontribusi memasok 65 persen aliran minyak mentah. Wall Street Journal melaporkan, operator kapal tanker negara Arab Saudi, Bahri, telah menangguhkan transit melalui Selat Hormuz. 

Kapal perang Inggris juga dilaporkan sudah ditempatkan di dekat Teluk. Ini dilakukan untuk mendukung tanker minyak berbendera Inggris melalui Selat Hormuz jika diperlukan.

“Meskipun saya merasa itu tidak mungkin. Gangguan signifikan terhadap pasokan minyak melalui Selat Hormuz dapat mengantarkan era baru. Di mana harga minyak bakal berada pada tiga digit,” kata Stephen Brennock, analis minyak di PVM Oil Associates.